Salam cinta dari Ania

Photobucket
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 November 2013

[Munakahat] Pernikahan Rasulullah

Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kembali ke Mekkah dari perjalanan dagangnya ke Syam, Khadijah Radhiallahu’anha melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat amanah dalam mengelola dagangannya dan ia juga melihat keberkahan besar dalam daganganya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Selain itu, budak lelaki Khadijah yang bernama Maisarah, juga mengabarkan kepadanya mengenai pembawaan Rasulullah yang lembut, sifat-sifat beliau yang mulia, ketajaman berpikir, perkataan yang jujur, metode beliau yang amanah.
Maka Khadijah pun seakan menemukan sosok pria yang didambakannya selama ini. Padahal banyak sekali para tokoh dan pembesar kaum yang berusaha untuk menikahinya, namun Khadijah menolak semuanya. Lalu Khadijah pun mencurahkan perasaannya tersebut kepada sahabatnya yang bernama Nafisah binti Muniyyah, dan Nafisah pun segera pergi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membeberkan niatan Khadijah tersebut dan menganjurkan Rasulullah untuk menikahinya. Beliau pun menyetujuinya dan membicarakan hal ini dengan paman-paman beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendatangi paman Khadijah dan melamar Khadijah. Tidak lama setelah itu, pernikahan pun dilangsungkan. Akad pernikahan ini dihadiri oleh para keluarga dari kalangan Bani Hasyim dan para pembesar kabilah Mudhar. Dalam pernikahan ini, Rasulullah memberikan mahar berupa 20 ekor unta muda. Pernikahan ini terjadi setelah dua bulan Rasulullah kembali dari Syam.

Kamis, 19 Mei 2011

Lomba Flash Fiction Poligami

Harmoni Keluarga Poligami
[Oleh Ania Maharani]

Bimo Cakra Seno, keponakan kecilku terbaring tanpa daya di kasur biru itu. Aku alihkan pandanganku ke sang Ibu, kakak sepupuku yang sangat tertekan karena permasalahan keluarga. Bukan karena masalah keluarganya yang poligami melainkan lilitan hutang yang menimpa orang tuanya. Hal ini menyebabkan produksi ASI kakakku menurun sehingga menyebabkan anaknya dehidrasi akut dan harus dirawat di RS.

Dulu, pamanku sempat memberontak karena anaknya mengambil keputusan untuk menjadi isteri kedua. Ya. Kakakku menerima lamaran dari seorang pria yang beristri. Saat itu usia kakakku masih belia dan belum lulus kuliah. Mulanya, aku tak paham apa alasannya untuk berpoligami. Hampir setiap anggota keluarga mencemoh keputusan kakakku. Namun keteguhan kakakku untuk berpoligami tidak goyah. Dia tetap menikah dengan pria itu dan membangun keluarga sakinah bersama isterinya yang pertama. Kakakku akhirnya melahirkan seorang putera yang menjadi permata dalam keluarganya. Sebaliknya, sang isteri pertama mengalami penyakit kanker serviks sehingga jalan untuk menghasilkan keturunan terhambat. Namun dia menerima kakakku apa adanya dan menganggapnya sebagai adik sendiri. Bahkan untuk kondisi tertekan ini, kak Yammah, sang isteri pertama, selalu mendampingi kakakku dan merawat Bimo dengan setulus hati.

Kerukunan yang aku lihat dalam keluarga poligami kakakku bukanlah sebuah sandiwara yang dibuat-buat oleh pelakunya. Kak Yammah begitu menerima kehadiran kakakku dan menjadikan keluarga poligami ini sebagai ladang amal dalam hidupnya. Semula, keluarga kak Yammah pun tidak setuju akan rencana poligaminya. Namun hasrat untuk memiliki sebuah keturunan meskipun bukan dari rahimnya sendiri menjadi pertimbangan yang terpenting dalam keputusannya.

Di ruang Flamboyan itu, aku bertanya kepada kak Yammah, “Pernah ga sih, Kak Yammah merasa cemburu dengan Kak Ori? Hehe...Jangan marah ya, Kak.”

Kemudian kak Yammah menjawab, “Sebagai rasa manusiawi, pernah juga, dek. Kak Ori mahir menjahit dan cukup ulet dengan keterampilan yang dimiliki. Dia juga cukup cerdas karena pernah lulus kuliah. Kadang aku merasa minder karena belum pernah merasakan jadinya sarjana."

“Yah, tapi kan Kak Yammah lebih pinter memasak daripada Kak Ori. Jadi kalian saling melengkapi, kan, Kak?”

“Hyum... Bener juga, ya? Tapi, kak Habib juga ga pernah membedakan antara kemampuan kami, kok, dek...Makanya, ku merasa nyaman dan tidak pernah mempersoalkannya. Oh ya, gimana tanggapan ta’aruf dari ikhwan fullan itu?”

“Kok, pertanyaan kak Yammah jadi ganti topik, sih? Perasaanku masih belum netral, Kak. Masih banyak pertimbangan,” jawabku dengan wajah memerah.

“Ya sudah, diistikharahkan dulu saja. Semoga dapat keputusan yang terbaik, ya,“ saran kak Yammah sambil memperbaiki letak infus Bimo.

Sekali lagi, aku merasakan ketulusan kak Yammah dalam membina keluarga poligaminya ini.